Senin, 09 Juni 2014

12. The Magic World

Keesokan harinya, aku menghadap Pak Munir di ruangan kerjanya. Beliau duduk bersandar di kursi kulit, di belakang meja kayu jati mengkilap yang berukuran besar dan mewah. Tubuh gemuknya terbungkus kemeja biru bergaris kecil-kecil, dipadu dengan dasi senada. “Masuk masuk, duduk sini.” kata Pak Munir sambil tersenyum ramah. Jenggot panjangnya melambai-lambai hampir menyentuh pangkal lehernya.
Aku lalu duduk di hadapannya. “Anu Pak, soal tawaran kredit mobil.”
“Oh iya, soal itu. Bagaimana?” Pak Munir menegakkan duduknya. Aku lalu menjelaskan, “Temen-temen di lantai sebelas ngga ada yang tertarik, Pak.”
“Aduh sayang sekali.” Wajah beliau mengguratkan kekecewaan.
“Tapi kalau boleh, saya berminat Pak.”

Senin, 27 Januari 2014

11. Rencana Bertemu

Malam itu terasa lebih hangat dari biasanya. Cahaya lampu teras yang menerobos masuk dari luar jendela menerangi kamar kami, menciptakan suasana remang-remang yang romantis. Aku duduk menyandarkan punggungku, sementara Mila masih berbaring menelungkup di sampingku. Kulit punggungnya terbuka, tampak begitu halus dan lembut. Hanya selimut berantakan yang menutupi sebagian tubuh kami.
Kulirik jam weker elektronik di meja sebelah. Sudah pukul sebelas malam. Kira-kira Jeyni dan Pipit sudah tidur belum ya? Aku pun menyingkap selimut di pangkuanku, mengenakan celana boxer dan berjalan keluar kamar. Kubuka kulkas di dapur, minum segelas air dingin dan mengembalikannya lagi ke tempat semula.
Samar-samar masih kudengar suara Pipit dan Jeyni sedang bercakap-cakap di belakang sana.

Biar sajalah. Aku tidak mau mengganggu mereka. Aku juga merasa kurang pantas mendatangi mereka dengan hanya bercelana boxer begini. Akupun lalu kembali ke kamar. Ternyata lampu sudah menyala.

Di atas tempat tidur, Mila duduk bersandar dengan ponsel di tangan. Kakinya ditekuk ke atas dengan selimut ditutupkannya hingga dada. Ia tersenyum manis melihatku masuk
ke dalam kamar.
“Anak-anak udah tidur?” tanyanya.
“Belum.” jawabku sambil naik ke tempat tidur. Aku duduk di sampingnya, seperti hendak ikut melihat apa yang dilihatnya di layar ponsel. “Lagi sms?”
“He-em.” katanya, “Balesin sms nya Ramon.”
Hmm. Nama itu lagi.

Minggu, 12 Januari 2014

10. She Said, I Love You


Pagi itu, tiba-tiba pintu kaca ruanganku diketuk dari luar. Eva, sekretaris Pak Munir melongokkan kepalanya, “Pak Dimas, dipanggil Bapak tuh.” Suaranya merdu seperti penyiar radio.
Eva berusia sebaya dengan Leni. Sebenarnya wajahnya lebih cantik dari Leni. Pipinya chubby, hidungnya mancung dan matanya belok. Sayangnya, bukan hanya pipinya saja yang chubby tapi juga seluruh badannya. Yup, Eva ini gemuk sekali. Dulu pertama kerja di sini, Eva masih single, tubuhnya montok depan belakang. Tapi setelah nikah muda dan punya anak, tubuhnya pun jadi melar kemana-mana.
Senin senin udah dipanggil aja ama Boss, pikirku. “Kok ngga nelpon aja sih?” tanyaku pada Eva sambil berdiri dan mendekati pintu. Kata Eva, “Bapak ngga di ruangan kok. Tuh lagi di mejanya Leni.”

Astaga. Ada apa ini?

Selasa, 07 Januari 2014

9. Buah Hati

Siang itu, aku masih duduk bersila di depan televisi tabung 14 inch, beralaskan karpet di kamar kostku. Walaupun kedua orangtuaku berada di Jakarta, tapi aku memang lebih suka untuk indekost di dekat kampus, dengan alasan butuh ketenangan dalam rangka menyusun skripsi. Dan salah satu kegiatanku yang utama –selain menyusun skripsi- adalah menonton film bokep bersama teman-teman.
Mataku melotot menikmati adegan panas yang dipertontonkan artis JAV (Japan Adult Video) terkenal, Haruki Mizuno. Film yang ini yang sedang kutonton ini, berjudul Sexy Princess. Aku sudah memutarnya di vcd player hampir tiga ratus kali. Ah entahlah, aku tidak benar-benar menghitungnya kok. Tapi yang jelas memang tidak terhitung lagi.

Sementara di lemariku, di laci paling bawah, masih ada keping-keping vcd yang lain lagi. Semua dibintangi Haruki Mizuno, sejak debutnya Barefoot Fairy hingga film terbarunya The Temptation of Eve.
Haruki Mizuno memang luar biasa. Bintang bokep Jepang, idola semua mahasiswa di sini. Dan di antara teman-temanku semua, aku lah yang paling beruntung, karena wajah cantik, lugu, dan innocent Haruki Mizuno telah di-copy paste kepada wajah cantik Mila, mahasiswi Bandung yang sudah kupacari setahun terakhir ini.

Selasa, 17 Desember 2013

8. Masa Remaja

Ini cerita ketika aku masih bujangan dulu. Cerita sekitar lima belas tahun yang lalu, ketika usiaku saat itu baru dua puluh tahun. Aku seorang pemuda kurus cungkring berpotongan rambut belah tengah ala Aaron Kwok. Aku berstatus sebagai mahasiswa jomblo di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta.
Jomblo bukan berarti aku tidak laku di mata cewek-cewek. Aku bahkan termasuk ganteng dan modis di kampus. Di era 90-an begini, pakaianku selalu fashilonable. Kemeja bercorak lengan panjang yang digulung lengannya hingga di bawah siku, dipadu dengan celana jeans cutbray yang bagian bawahnya lebar menyapu jalanan. Sneakers Converse hitam putih membuat penampilanku makin trendy.
Masalahnya, semua remaja di Jakarta dandannya memang seperti itu. Jadi nothing special sepertinya. Semua jadi serba seragam.

Minggu, 01 Desember 2013

7. Fixing A Broken Heart

Matahari semakin meninggi. Kami berdua kemudian memutuskan untuk jalan-jalan ke Cilandak Town Square yang letaknya tidak begitu jauh dari lokasi rumah kost baru Leni. Setelah mobil kuparkir, kami pun berjalan beriringan. Sesekali Leni berjalan agak lebih cepat di depanku sehingga aku bisa mengamati penampilannya dari belakang.

Leni menggulung rambutnya coklatnya ke atas, persis seperti yang biasa dilakukan istriku. Lehernya panjang dan jenjang begitu putih dan mulus. Baju turtleneck lengan panjang yang dipakainya sangat bertabrakan dengan hotpants super pendek yang hanya menutup persis di bawah pantat. Pahanya begitu terbuka, mengundang semua mata memandang. Benar-benar nice legs. Hampir semua orang melirik ke arah kakinya. “Sini lho Pak, kok pelan amat jalannya.” kata Leni sambil menarik pergelangan tanganku. Aku tertawa, “Ya kamu itu kalau jalan cepet banget.”

Rabu, 13 November 2013

6. Jalan Bareng Leni

Besok paginya aku sengaja bangun agak siangan. Ini hari Sabtu, hari libur bagiku dan sebagian warga kantoran di Jakarta. Enak bagiku karena tidak harus bangun pagi-pagi dan bermacet-macet di jalan. Rasanya aku ingin terus memeluk guling menikmati pagi. Tapi sebuah ciuman lembut, hangat dan basah di pipiku membuatku membuka mata perlahan-lahan. Mila duduk di samping tempat tidur. “Papa..”
“Engh..” aku mengeliat. “Jam berapa?”
“Setengah delapan.” jawab Mila.
“Jeyni?” tanyaku sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Tidak kudengar suara anak gadisku di luar kamar.
“Sekolah. Kan dia berangkat dari rumah Pipit.” kata Mila lagi. Oh iya ya, aku lupa. Aku baru ingat
semalam baru saja pergi berduaan dengan Mila tanpa Jeyni.
Lalu aku memutar tubuh, membelakangi Mila dan kembali memeluk guling. Mataku kembali terpejam mencoba meneruskan tidurku.
“Ngga sarapan?” tanya Mila.
“Ntar aja.” jawabku malas-malasan sambil tetap memejamkan mata. Mila tidak berkata apa-apa lagi. Aku pun mulai menikmati buaian pagi hari, sampai tiba-tiba suara lembut istriku kembali memecah keheningan.
“Aku mimpi Ramon.”
Deg.

Nama itu lagi dia sebut. Bagaimana aku bisa tidur kalau begini. Kubuka mataku, lalu kubalikkan badan. Kini baru kulihat jelas sosok istriku. Ia duduk di samping tempat tidur, masih mengenakan baju tidur yang dikenakannya semalam. Baju tidur pink polkadot berbahan kain satin yang licin dan lembut., dengan tali kecil di pundak. Bagian depannya rendah sekali, memamerkan belahan dadanya. Aku pun duduk di hadapannya dan siap mendengarkan.

Istriku tersenyum lebar. Wajahnya ceria. Sepertinya ia suka melihatku bangun dari tidur, menyingkirkan guling dan siap menyimak ceritanya. Mila lalu bercerita, bahwa semalam baru saja memimpikan Ramon. Katanya, di mimpi itu jelas sekali Ramon berkata kepadanya bahwa istrinya sangat cemburuan, sehingga dia tidak bisa terlalu sering menghubungi Mila.